O R C H I D R I E N N E

Dear words, shall we have a date?

[FAN FICTION] TWINKLE TWINKLE LITTLE TWINS

9 Comments

Author : Ariesy Perdana

Main Cast : Jo Twins (Boyfriend), Park Haneul (Rieztka Ryu)

Length : One shot

Genre : Romance, bromance.

Rating : General

Recommended backsound : Boyfriend-Boyfriend

“Psssttt! Young Min!” Kwangmin tiba-tiba muncul dan menempelkan telunjuk di bibirnya sembari memanggil saudara kembarnya itu. Young Min tersentak sebentar dan menghentikan langkahnya. Ia sebenarnya sedang terburu-buru. Langit sudah gelap sejak bel pulang sekolah berdering dan Young Min tidak ingin terlambat pulang. Tepatnya tidak ingin ketinggalan tumpangan. Min Woo, teman sekelasnya yang selama ini dinamainya Si Payah Kutu Buku ternyata sudah punya izin bawa mobil ke sekolah oleh orangtuanya. Dan sebagai teman yang, well,  pandai mengambil kesempatan, ia mulai mendekati Min Woo. Persahabatan dimulai dengan sebuah mobil mewah. Fantastis.

“Kita bicara di rumah saja. Aku buru-buru. Min Woo bukan orang yang suka menunggu dan si Payah itu jadi besar kepala karena aku suka menumpang mobilnya sekarang.” ucap Young Min. Kwangmin membelalakkan mata besarnya sekali lagi.

“Kau sekarang berteman dengannya?” tanyanya takjub. Sepanjang ingatan Kwangmin, saudara identiknya ini punya alergi dengan segala jenis kutu termasuk kutu buku macam si Min Woo. Kwangmin bukan tidak tahu sebabnya, tapi ia tidak menyangka saudara kembarnya ini jadi begitu materialistisnya hingga tidak mau mendengarkan sepatah katapun yang ingin Kwangmin katakan padanya.

“Kita bisa minta belikan mobil nanti setelah tujuh belas. Kau tidak perlu menumpang mobilnya.” Ujar Kwangmin. Young Min memutar bola matanya. Kwangmin terlalu naïf, seperti anak kecil. Makanya dia tidak sepopuler Young Min. Anak itu begitu sibuknya dengan organisasi sekolah sampai-sampai tidak menyadari kalau masa mudanya itu cuma sekali dan ia tidak bisa tebar pesona pada gadi-gadis berseragam SMU atau SMP jika kerjanya terus di balik layar. Young Min bersyukur tidak seperti saudaranya itu. Ia bangga sekali menyadari bahwa hampir semua gadis di sekolah menyukainya dan dengan mudahnya membedakan mereka. Terlepas dari warna rambut mereka yang berbeda. Young Min nekat mengecat pirang rambutnya. Mungkin aneh, tapi kadang ia tidak suka orang-orang memanggil mereka berdua Jo Twins. Young Min tidak pernah merasa satu paket dengan Kwangmin. Dan ia tidak ingin.

Tapi bagaimanapun, Kwangmin saudaranya dan ia mau tidak mau mesti merelakan tumpangannya pergi kali ini.

Mereka pergi ke kafetaria sekolah dan memesan makan siang. Young Min makan dengan lahap karena ia memang lapar, dan Kwangmin memulai kisahnya.

“Aku jatuh cinta!”

BRUUSSHH!!

Nasi yang sudah masuk ke mulut Young Min keluar lagi begitu mendengar ucapan Kwangmin barusan. Sekedar kalau kau mau tahu, Kwangmin tidak pernah membicarakan gadis pada Young Min, meskipun kenyataannya Young Min bahkan sudah berani membawa gadis ke rumahnya sekedar untuk minum teh atau mengerjakan PR. Dan tentu saja, dengan beberapa gadis yang berbeda-beda setiap minggunya. Dan Kwangmin tidak pernah tertarik untuk berkenalan dengan mereka.

“Gadisku yang mana?” tanya Young Min sembari menyesap jusnya, merasa yakin kalau Kwangmin hanya tahu dengan gadis jika ia membawanya ke depan hidungnya.

“Bukan gadis-gadis yang pernah kau bawa ke rumah,” sahut Kwangmin, membuka permen jeruknya dan mengulumnya di dalam mulut. Young Min menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Jangan terlalu sering membiarkan kebiasaanmu makan sesuatu yang asam. Beberapa gadis malah tidak suka.” Ujar Young Min. Kwangmin mengerutkan dahinya.

“Kenapa aku harus peduli mereka suka atau tidak? Mereka kan tidak harus membauiku hingga ke dalam mulut.”

“Jaga-jaga. Mereka mungkin saja butuh pernapasan buatan waktu kalian sedang main air ke pantai dan kau akan jadi pahlawannya. Kecuali kalau dengan bodohnya kau serahkan itu pada penjaga pantai.”

“Astaga, Young Min! Tentu saja aku harus menyerah urusan itu pada penjaga pantai!”

“Aku bisa ajarkan kau teknik memberikan pernapasan buatan. Ada di buku pelajaran olahraga. Kalau kau sudah bisa, memangnya kau akan biarkan bibir gadismu menempel pada bibir namja lain?” Young Min menjawab seringan kapas. Saudara kembarnya itu mengusap dadanya dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah identiknya itu. Young Min memang selalu berada selangkah atau dua langkah di depannya kalau berurusan dengan cewek.

“Oke, oke. Terserah saja. Aku tetap akan menyerahkan urusan penyelamatan pertama pada penjaga pantai.”

“Ya baiklah. Informasi saja, aku sudah pengalaman. Jadi, kau ingin membicarakan apa tadi? Kau jatuh cinta bukan dengan gadis yang aku bawa ke rumah selama ini? Lalu dengan siapa? Tunggu, kubunuh kau kalau jatuh cinta pada namja!”

“Kau mau bantu atau tidak?” Kwangmin mulai gerah dengan sikap tak acuh saudara kembarnya itu. Young Min mengangkat bahu.

“Kenapa tidak?” ucapnya kemudian.

$$$$$$$$$$

Sepulang sekolah, Kwangmin dan Young Min mengendap-endap di balik pagar sebuah gedung empat lantai dengan dominasi coklat muda pada catnya. Mereka berkali-kali muncul-sembunyi-muncul-sembunyi di sana. Banyak gadis dengan seragam merah yang manis berjalan di lapangannya. Kedua saudara itu mencoba membaca situasi di sana.

“Ngomong-ngomong aku suka sekolah khusus putri. Mereka polos, seolah tidak kenal namja sepanjang hidupnya. Tapi ketika kau dekati, mereka lebih dari kata menyenangkan. Kau tidak akan menyangka kalau suatu saat kau menemukan rokok dan korek api di saku rok mereka.” celoteh Young Min sembari sesekali meniup-niup semut yang merayapi lengannya. Sudah tidak tahan lagi, ia kembali berceloteh, ketika Kwangmin menempelkan telunjuk di bibirnya, mengisyaratkan agar saudaranya itu diam.

“Memangnya mereka di sini merokok?” tiba-tiba Kwangmin melanggar isyaratnya sendiri. Ia tampak khawatir dengan kalimat-kalimat Young Min barusan.

“Aku tidak bilang begitu. Tapi aku pernah menginap satu malam di sekolah berasrama khusus putri, di mana deh…aku lupa. Waktu itu aku dan teman-temanku travelling pasca-ujian dan kami…”

“KAU MENGINAP? DI SEKOLAH ASRAMA PUTRI???” Kwangmin merasa tidak bisa lagi menahan rasa kagetnya pada identiknya itu. Giliran Young Min yang menyuruhnya diam.

“Kami tidak melakukan hal yang salah dan di luar batas. Kami hanya…well, sedikit bersenang-senang. Kau tahulah, mengendap-endap agar tidak ketahuan guru, dan lain-lain.” Sahutnya.

Kwangmin berusaha menutup semua kemungkinan dari arti kata ‘bersenang-senang’ dan ‘dan lain-lain’ versi Young Min dan kembali mengawasi para gadis-gadis dari sekolah khusus putri itu, ketika kemudian matanya membelalak dan ia bersorak pelan.

“Hei! Itu dia! Sini, Young Min!” Kwangmin menarik tangan Young Min agar saudaranya itu bisa melihat gadis yang ditunjuk olehnya yang notabene merupakan gadis yang diceritakan Kwangmin kemarin. Young Min mengamati.

“Tipemu sekali. Rok Taat-Aturan, rambut dikepang ke samping. Biar aku tebak, dia pasti pakai motif kelinci.”

“Jangan terlalu brengsek, Young Min.” Kwangmin tiba-tiba jadi gugup bercampur galak. Young Min menahan tawanya dan mengangkat tangannya tanda minta maaf. Mereka maju selangkah demi selangkah. Tepatnya Young Min menarik tangannya agar maju.

“Tanya siapa namanya!” ujar Young Min. Kwangmin bergerak ragu.

“Aku sudah tahu. Park Haneul.” Sahutnya.

“Baiklah. Ajak dia.”

“Kemana?”

“Ke kamarku. Ya kemana sajalah kau mau, Jo Kwangmin! Ya ampun…, jangan sampai aku yang maju ke sana ya! Kau akan menyesal melihatnya pergi nonton denganku malam nanti…” ancam Young Min gemas. Ia tidak habis pikir kenapa saudara kembarnya ini tidak bisa menghadapi gadis dengan penampilan sesederhana itu. Kwangmin akhirnya bergerak perlahan. Young Min mendorong-dorongnya dan mereka terlibat aksi saling mendorong.

“Baiklah, baiklah! Aku ke sana. Dan kau jangan kemana-mana sampai aku kembali!” Kwangmin memperingatkan Young Min dan hanya disambut oleh anggukan oleh namja itu.

Kwangmin menarik napas panjang. Park Haneul masih beberapa langkah darinya dan ia tampaknya menuju ke kafetaria. Jam pulang sekolah di sekolah itu mungkin sama dengan sekolah Kwangmin, hanya para muridnya bisa jadi betah berlama-lama di sana.

Kwangmin mengikuti langkah gadis itu diam-diam. Ia berusaha menghindari pandangan–pandangan yang mulai menusuk mengingat ia sendirian namja di sini dengan seragam sekolah, berjalan perlahan seolah stalker.

Park Haneul mengambil tempat duduk sendiri di kafetaria dan memesan sesuatu, kemudian membuka beberapa buku yang ia keluarkan di atas meja. Ia tampak sibuk membaca dan menulis. Mungkin sedang mengerjakan PR. Kwangmin menghela napas panjang, menghembuskannya, kemudian membulatkan tekadnya untuk menempati bangku kosong di hadapan gadis itu.

“Annyeong!” sapa Kwangmin sesopan dan sehalus mungkin. Haneul menghentikan kegiatannya dan memandang Kwangmin dengan dahi berkerut bingung.

“Kau ingin bertemu siapa?” tanya Haneul sebagai sahutan atas sapaan Kwangmin tadi, membuat namja itu jadi gugup setengah mati. Ia menyesal mengikuti omongan Young Min untuk langsung mendekati gadis itu. Bukan apa-apa, Kwangmin merasa aneh jika berkenalan lewat ponsel. Ia lebih suka mendekati gadis langsung secara namja. Meskipun itu lebih membuat semua organ tubuhnya seperti mati rasa.

“Oh, sebenarnya ingin bertemu denganmu. Tapi tampaknya kau sedang sibuk, jadi…lanjutkan saja pekerjaanmu.” Ucap Kwangmin akhirnya. Ia menarik napas lagi. Haneul mengamatinya sejenak kemudian mengangkat bahu.

Well, karena kau sudah terlanjur di sini. Bagaimana kalau kau ajarkan aku trigonometri sialan ini? Aku ikut ujian perbaikan dan itu cukup merusak harga diriku. Bukan aku benci Matematika sih,…”

“Oh, trigonometri? Aku suka mengerjakannya! Maksudku, aku bisa mengajarimu!” Kwangmin langsung bersemangat, menemukan topik baru dan berkualitas. Inilah pendekatan yang ia sukai. Tidak ada rasa canggung, dan tidak melepaskan topik dari sekolah. Seratus delapan puluh derajat dari identiknya, Young Min.

“Baiklah. Aku Park Haneul. Namamu? Aku tidak harus panggil songsenim kan?”

$$$$$$$$$$

Kwangmin menerjang pintu kamar Young Min ketika namja itu sedang tidur dan tersentak kaget melihat pintu kamarnya yang menjeblak begitu saja.

“Young Min! Aku sukses!!!” seru Kwangmin gembira sambil menyibakkan selimut saudaranya itu dengan riang. Young Min tersentak bangun dan mengernyit menahan rasa pusing yang menyerangnya karena bangun tiba-tiba.

“Oh, sialan sekali kau, Kwangmin! Aku bahkan bermimpi ini hari Minggu ketika ini memang hari Minggu. Pergi sana!”

“Tidak, tidak! Kau harus bangun dan dengar ceritaku! Aku berhasil mengajaknya jalan! Kami akan pergi nonton Sabtu depan dan aku akan menjemput langsung ke rumahnya! Dan aku perlu pendapatmu soal baju apa yang akan kupakai nanti. Haruskah aku menyewa tuxedo? Atau apa? Kira-kira dia akan pakai baju apa ya?”celoteh Kwangmin bersemangat sementara Young Min berusaha bangkit dan duduk sambil mengelap mulutnya.

“Tidak perlu berpakaian formal. Belilah kaus couple dan pergilah dengan mengenakan itu. Sudah ya, aku mau tidur. Oh ya, jangan beli kaus warna putih, kalau-kalau kau gugup dan menumpahkah limun ke kaosmu.”

“Jangan tidur lagiiiiiii…!” Kwangmin menarik-narik identiknya itu dengan manja. Ia tidak pernah mengerti kenapa ia sebenarnya ingin sekali bisa lebih dekat dengan Young Min. ia merasa Young Min kerap kali menghindarinya dan lebih memilih bermain dengan teman-temannya. Kwangmin belum pernah memergoki Young Min merokok tapi ia yakin anak itu pernah paling tidak satu atau dua kali melakukannya.

“KWANGMIN!!!” bentak Young Min tiba-tiba, membuat Kwangmin tersentak kaget. Ia terdiam untuk beberapa lama dan suara Young Min kembali memecah keheningan.

“Maaf, maaf. Aku capek sekali. Bisa kau biarkan aku lanjutkan tidur lagi? Oh, aku turut senang kau akhirnya berhasil mengajak Park Haneul keluar. Semoga berhasil.” Ujar Young Min dengan suara yang lebih lunak. Kwangmin tidak menyahut. Ia bangkit dari sana dan pergi meninggalkan kamar Young Min.

Young Min membuka matanya sejenak. Merasa sangat menyesal sudah membentak Kwangmin tadi. Ia tidak perlu melakukan itu. Tapi entahlah. Young Min bosan diikuti terus. Ia punya kehidupan sendiri dan Kwangmin juga harus punya. Mereka tidak satu paket. Saudara kembar mungkin hanya memiliki kemiripan identik pada wajah dan tubuh. Tapi mungkin tidak pada jalan pikiran mereka. Dan Young Min yakin akan hal itu.

Lagipula, ia iri dengan Kwangmin. Semua gadis yang dibawanya ke rumah mengatakan betapa miripnya ia dengan Kwangmin. Hanya saja ia tidak lebih pintar. Young Min pernah berpikir bahwa setidaknya ia menang beberapa langkah dari saudaranya itu soal pergaulan. Tapi Young Min salah.

Gadisnya memang banyak. Tapi Young Min bahkan belum pernah benar-benar menikmati kencan dengan seorang gadis. Mereka hanya senang-senang.

Jadi buat apa ia peduli dengan Kwangmin?

$$$$$$$$$$

Young Min melangkahkah kakinya ke bangunan bercat coklat yang dulu pernah ia kunjungi dengan Kwangmin. Itu jam pulang sekolah. Kwangmin sedang ikut latihan olimpiade Fisika di sekolah dan ia memanfaatkan kesempatan ini untuk mengubah sedikit hidupnya.

Young Min melangkah melewati tempat parkir mobil guru dan menyempatkan diri mematut wajahnya di depan kaca mobil di sana. Ada yang berbeda. Ia mengecat coklat rambutnya. Sekarang, ia dan Kwangmin benar-benar bagai pinang dibelah dua sama rata.

Matanya tertumbuk pada sesosok gadis yang sedang tertawa-tawa dengan teman-temannya. Gadis itu menoleh padanya dan melambaikan tangannya. Young Min membalasnya dan tersenyum.

Young Min memang salah. Dan ia mengakuinya. Ia tahu perbuatannya ini salah. Ia mencurangi saudara kembarnya sendiri dengan menyamar jadi diri Kwangmin dan mencoba jalan dengan gadis yang bernama Park Haneul. Kenapa? Young Min bahkan tidak punya perasaan suka pada Haneul. Ia hanya ingin maju selangkah dari Kwangmin.

Gadis itu bicara sebentar dengan temannya dan ia melangkah mendekati Young Min.

“Hai, Kwangmin! Lama berdiri di sini?” sapanya riang. Young Min terpaku sejenak. Park Haneul lebih cantik jika dilihat dari dekat. Senyumnya menawan. Pantas saja Kwangmin suka padanya.

“Errr…yeah, tidak begitu lama. Jika menunggumu.” Ujarnya tersenyum dan mencoba untuk tenang. Young Min jarang berbohong. Dan ia tidak ingin. Tapi ia sudah terlanjur terjun ke permainan ini dan ia ingin menyelesaikannya. Lagipula Park Haneul cantik.

“Baiklah. Kita mampir ke kafe dulu, yuk! Aku haus sekali. Bosan ke kafetaria.” Haneul menggamit lengannya dan menariknya keluar sekolah.

Mereka pergi ke kafe yang tidak jauh dari sana dan memesan minuman serta cake. Haneul mengatakan kalau hari ini ia yang traktir.

“Tak perlu. Aku bawa uang.” Tolak Young Min halus.

“Ya ampun, Kwangmin. Baru saja Sabtu kemarin kita sepakat. Kalau aku yang mengajak, maka aku yang membayar semuanya. Lagipula sudahlah. Tidak jamannya lagi semua mesti namja yang membayar. Aku malas juga menikmati uang sakumu terus-menerus. Giliranmu menikmati uang sakuku,” ujar Haneul santai.

Young Min bengong. Ia tidak tahu harus berkata apa. Gadis di hadapannya sekarang ini benar-benar imut dan mengagumkan. Belum pernah ada gadis yang memaksa hendak membayarinya makan. Kwangmin benar-benar beruntung.

Mereka makan dengan nikmat ketika tiba-tiba Haneul mencetus pelan.

Well,  rambutmu barumu keren.” Ujarnya. Young Min mengernyit dan memandang gadis itu cukup lama. Ia tahu ada yang tidak beres di sini.

“Kau tahu aku bukan Kwangmin.” ujarnya kemudian. Haneul tersenyum manis. Ia menyendok lagi cakenya dan mengangkat bahu.

“Kecuali Kwangmin menggunakan hair extension, aku baru percaya.”

“Kenapa kau pura-pura tidak tahu?” tuntut Young Min, merasa dipermainkan.

“Aku ingin tahu sejauh mana kau bisa mengkhianati saudaramu, Jo Young Min.” tandas Park Haneul, lembut namun tajam. Young Min bagai ditusuk jantungnya dengan telak. Ia tidak bisa berkata-kata.

“Dengar, aku…aku…” Young Min gelagapan. Haneul tertawa dan menggerak-gerakkan tangannnya ke atas dan ke bawah.

“Sudahlah. Aku tidak bermaksud melukaimu. Tenang dulu. Habiskan cakemu, dan bicara padaku. Kalau mau penjelasanku, baiklah. Kwangmin meneleponku semalam untuk minta dukungan pada latihan olimpiadenya hari ini. Dan minta maaf karena tidak bisa menjemputku. Lalu kau datang, dengan rambut beberapa inci lebih panjang darinya, menjemputku tanpa menjelaskan kenapa ‘Kwangmin’ alias kau pulang lebih cepat dari latihan.”

“Ergh, bodohnya aku.” Keluh Young Min, bersandar pada bangku dan meremas rambut coklatnya. Haneul memandangnya simpatik. Ia mengerti perasaan Young Min. Tapi ia tidak tahu kenapa Young Min melakukannya.

Well, aku iri padanya. Semua gadis suka padaku tapi hanya dia yang dapat pacar. Semua gadisku bilang kalau kami mirip, hanya dia lebih pandai. Kau pikir bagaimana perasaanku? Aku selalu berusaha lebih maju darinya dalam hal apapun. Tapi karena mungkin kapasitas otakku berbeda dengannya, aku mencoba cara lain. Ternyata ia bahkan menang dariku soal pergaulan. Aku seperti barang sisa, kau tahu?” Young Min bercerita dengan suara parau. Haneul mendengarkan dengan seksama. Ia tidak mau terlihat prihatin. Young Min tipe orang yang tidak ingin dikasihani. Dan ia memang tidak harus dikasihani.

“Aku iri pada kalian.” Ujar Haneul lembut. Young Min memandangnya bingung. dan tertawa sinis.

“Oh ya ampun , iri apa?” tanyanya.

“Aku menyukai Kwangmin,”

“Oh kalau begitu aku yang iri.” Ucap Young Min.

“Kau tidak benar-benar menyukaiku. Kau hanya terpesona sesaat saat aku menawarkan untuk mentraktirmu dan saat kau melihatku lebih dekat. Kau tipe orang yang suka menilai gadis dari apa yang ia pakai.”

“Eyuwh, berhenti baca pikiranku.”

“Kau hanya ingin selangkah lebih maju dari Kwangmin. Tujuan utamamu bukan mendekatiku.” Ujar Haneul, menyelesaikan ucapannya. Dalam hati Young Min membenarkan ucapan gadis itu. Ia memang terpesona pada Haneul. Dan ia iri pada Hwanng Min yang bisa mendapatkan gadis berkualitas seperti Haneul. Tapi tidak sedikitpun Young Min berminat ingin menjadikan Haneul sebagai gadisnya. Haneul benar, ia hanya ingin selangkah di atas Kwangmin. Dengan cara yang bahkan tidak melibatkan perasaannya sama sekali. Ia bahkan tidak menyimpan perasaan apa-apa pada Haneul.

Tiba-tiba pintu terbuka dan keduanya terkejut setengah mati. Kwangmin berdiri di sana dan memandang mereka.

$$$$$$$$$$

Pintu kamar Kwangmin terbuka. Kamar yang dua kali lebih luas dari kamar Young Min itu kini dicat putih apel, warna kesukaan Kwangmin.

Dulu itu kamar mereka berdua, sebelum Young Min meminta agar dibuatkan kamar sendiri sehingga lebih bebas melakukan apapun tanpa campur tangan saudaranya itu.

Kwangmin menoleh ke arah pintu.

“Boleh aku masuk?” tanya Young Min. Kwangmin hanya mengangguk. Kedua saudara itu duduk berdampingan di tempat tidur Kwangmin. Beberapa saat hanya keheningan yang menghiasi atmosfer mereka. Akhirnya Young Min bicara.

“Aku minta maaf.”

“Untuk apa?”

“Karena telah menusukmu dari belakang dan…”

“Kenapa tidak kau jadikan ia pacarmu?!” tiba-tiba Kwangmin meninggikan oktaf suaranya. Young Min tidak tahu akan berkata apa.

“Aku tahu aku kejam, tapi…”

“Kau menyukainya kan? Aku serius. Pacaran saja dengan Park Haneul. Kami tidak pacaran kok. Kau lebih pantasnya dengannya.” Kwangmin memainkan gantungan kunci di ranselnya. Young Min menatapnya nanar.

“Kau ini kenapa?!” tukasnya tak nyaman.

“Kau menginginkan Haneul makanya kau menyamar jadi aku. Aku…menyukainya. Tapi kalau itu untukmu, aku tidak masalah.”

JDERRR!!! Young Min seperti tersambar petir mendengar ucapan kembarannya itu. Kwangmin merelakan Haneul untuknya? Selama ini ia tidak tahu kalau Kwangmin berjiwa besar. Bukan. Kwangmin bukan berjiwa besar. Kwangmin menyayanginya.

“Hei, Bodoh. Dengar ya. Aku-tidak-sedikitpun-menyukai-Haneul. Oke, oke, dia memang cantik, menyenangkan, tapi aku tidak berminat padanya.” Young Min mencoba menjelaskan.

“Lalu kenapa kau lakukan hal tadi siang?” tanya Kwangmin.

“AGAR SELURUH DUNIA TAHU AKU LEBIH DARIMU! KAU TAHU?! AKU MUAK! AKU MUAK DENGAN SEMUA OMONGAN ‘Young Min dan Kwangmin mirip sekali ya. Tapi yang satunya lebih pintar. Siapa itu yang rambut coklat?’. KAU PIKIR AKU SUKA? AKU HANCUR!” tiba-tiba Young Min meledak. Kwangmin memandangnya tak percaya.

“Kau tidak perlu melakukan itu padaku, Young Min. Aku akan berikan apa pun yang kau mau! Asalkan…, asalkan kita bisa bersama seperti dulu. Kau yang memisahkan diri dariku. Kau menghindariku sejauh yang kau mampu. Dan aku hanya bisa berharap kita bisa selayaknya saudara. Makanya kubiarkan kau jalan dengan Haneul!” papar Kwangmin. Kemudian, setelah dilihatnya Young Min tidak menjawab, ia melanjutkan.

“Kau tahu, aku senang kau mau mendengarkan ceritaku waktu itu. Aku senang ketika kau menemaniku ke sekolah Park Haneul, mendorongku agar bisa menyatakan semuanya sendirian, memberiku saran-saran yang tidak masuk akal. Aku benar-benar bersyukur bisa punya waktu bersamamu, meskipun itu hanya berlaku untuk beberapa hari. Makanya aku pikir, jika aku memberikan Haneul padamu, kau dan aku bisa…”

“Tidak ada yang bisa mengubah kita, Kwangmin. Aku punya jalan hidup sendiri. Aku tidak mau jadi bayanganmu, dan berhentilah jadi bayanganku!” bentak Young Min. Ia lupa bahwa seharusnya ia yang minta maaf pada Kwangmin soal kejadian kemarin.

“Tidak ada siapa yang jadi bayangan siapa! Tidakkah kau sadar?! Kau yang mengubah semuanya! Kau bertingkah jadi pemberontak, bergaul dengan siapa saja, berlaku sesuka hatimu! Setelah apa yang kau lakukan, kau masih bisa bilang kalau aku yang menyebabkan semua ini? KAU YANG DARI AWAL MEMBUAT JARAK! Kau ingin punya kamar sendiri, kau pulang sekolah dengan orang lain, dan kau…menghadapi masalahmu sendiri!” Kwangmin berseru parau, menahan air matanya yang tampaknya tidak ingin diajak kompromi.

“Tidakkah kau sadar kalau kau masih punya aku? Aku saudaramu, Young Min! Kalaupun kita bukan kembar identik, atau tetap saudaramu! Kenapa kau repot-repot cari orang lain?! Kenapa kau repot-repot menjatuhkan harga dirimu di depan Min Woo dan menumpang mobilnya?! Kau yang menghindariku sejak awal!”

Young Min terdiam, sementara Kwangmin sudah tidak bisa mengendalikan air matanya lagi. Perlahan terdengar isakannya. Seumur hidupnya, baru kali ini Young Min mendengar pengakuan dari saudaranya itu. Kwangmin selama ini bukannya tidak sadar kalau Young Min sengaja membuat jarak di antara mereka. Tanpa sadar Young Min menahan desakan air matanya. Ia tidak ingin menangis seperti Kwangmin.  Ia tidak ingin dianggap lemah. Tapi ternyata ia memang payah. Ia tidak menyadari kalau Kwangmin selama ini berusaha menyeberangi jurang  yang ia ciptakan.

Benar. Kwangmin bukan bayangannya. Ia saudaranya.

“Jangan menangis!!!” bentak Young Min.

“Kau tidak berhak bilang begitu!!! Sana pergi!!! Aku mau tidur!” Kwangmin tak kalah bentak. Young tertawa sinis.

“Kenapa aku harus pergi? Ini kamarku juga. Nanti kamarku yang di sana mau aku jadikan studio band saja. Aku tidur di sini lagi.” ujar Young Min sambil tersenyum. Senyum tulus pertama sejak empat tahun terakhir ini.

“Maksudmu, kau memaafkanku?” tanya Kwangmin.

“Kalau kau tidak bersalah, kau tidak perlu minta maaf. Punya harga diri sedikit memangnya kenapa sih? Kau harus belajar dariku.” Ujar Young Min.

“Yeah! Kau memaafkanku! Hahaha! Baiklah, baiklah, nanti kita angkut tempat tidurmu ke sini!” seru Kwangmin bersemangat. Hatinya lapang sekarang.

Namun, bukan hanya Kwangmin yang merasa lega. Ada seseorang lagi yang jauh lebih lega darinya. Identiknya sendiri. Young Min merasakan perasaan yang menyenangkan sekali setelah berbaikan dengan saudaranya itu. Salah satu pelajaran yang harus ia catat dalam kehidupan ini adalah, bahwa saudara bukan bayangan. Saudara adalah di mana kau bisa menceritakan semua masalahmu dan membuat perasaanmu menjadi lebih baik. Jika Kwangmin menganggapnya demikian soal Haneul, kenapa ia tidak bisa? Duduk di tempat tidur Kwangmin rasanya sekarang jauh lebih menyenangkan daripada duduk di mobil Min Woo. Lagipula namja itu makin hari makin menginjak kepala saja. Karena Young Min suka menumpang mobilnya sekarang, ia mulai berani menggoda gadis-gadis yang dekat dengan Young Min.

“Hei, bagaimana dengan Haneul?” tanya Kwangmin kemudian.

“Kau gila. Kau suka padanya tapi memberikannya padaku? Lagipula gadis itu bukan tipeku. Yeah…dia cuma lebih pintar saja dari gadisku yang lain. Tapi sungguh, aku tidak berminat. Ambillah untuk kau saja. Oh tapi satu hal,” ujar Young Min, menggantungkan kalimatnya. Kwangmin memandangnya ingin tahu.

“Kalau Park Haneul punya teman yang sesuai tipeku, kenalkan padaku. Aku sudah bosan bermain-main. Aku juga ingin punya pacar.” Young Min setengah mengakui, membuat Kwangmin terbahak dan berhenti ketika Young Min memberinya tatapan membunuh.

“Memang tipemu yang seperti apa?” tanya Kwangmin.

“Yang tidak pakai motif kelinci.”

“Oh, jangan terlalu brengsek, Young Min,”

Mereka tergelak bersama, menghabiskan sore itu dengan atmosfer yang beku selama empat tahun ini dengan menata kembali kamar mereka.

Author: Ariesy Perdana Putri

I love Allah SWT. I love Prophet Muhammad SAW. I love my family. Post-graduated from Architecture study program in Universitas Sriwijaya. Like imagining. Like food. Like sleeping.

9 thoughts on “[FAN FICTION] TWINKLE TWINKLE LITTLE TWINS

  1. Eciiiiii
    Apaaaa itu “motif kelinci” ???? Kkkkk

    Nice ff eciii,ada pesan tersembunyi di ff ini,sukaaaaa

  2. wooh… Bagus… Untung haneul nya merhatiin detail rambut young min. Aaah, eci, aq suka tulisanmu

  3. lucuuuu~ gemesin ya si kembar.. keren keren! anak kembar mungkin gitu ya, ada juga iri2nya.. meskipun identik tetep aja dibanding2in..
    punten ya, mau pindah ff berikutnya.. ^^

  4. Bagus kak xD
    bikin terharu :’)
    konflik anak kembar …
    moga Jo Twins tetep akur xD

    like this yo ;)

  5. eommaaaaaaa~~~
    mincha komen yaaaa~~~
    eomma bikin aku menitikkan air mata deh…. serius…
    bagus maaaaa………. >,<

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 39 other followers